Cakrawalanews, Makassar — Semangat persaudaraan, kebersamaan, dan pelestarian budaya Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara berpadu dalam kegiatan “Attayang Sunset, Biseang ri Lau, Mangkasara’ Molulo” yang digelar di Anjungan Pantai Losari, Makassar, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan bagi berbagai unsur masyarakat dalam memperkuat hubungan sosial sekaligus memperkenalkan kekayaan seni dan budaya yang tumbuh dan berkembang di Sulawesi Selatan maupun Sulawesi Tenggara.
Mengusung semangat kolaborasi budaya antardaerah, acara ini melibatkan masyarakat adat, komunitas seni budaya, organisasi kemasyarakatan, pemerhati kebudayaan, serta sejumlah tokoh dari kedua provinsi.
Kegiatan yang telah dipersiapkan selama kurang lebih tiga bulan itu dikemas dengan berbagai pertunjukan seni tradisional. Sejumlah kesenian yang ditampilkan antara lain Angaru, Tari Empat Etnis Sulawesi Selatan, Tari Lumense dari Sulawesi Tenggara, Tari Dua Etnis Tubarani, pertunjukan sanggar seni budaya Sulawesi Tenggara, hingga Tari Pepe’ka ri Makka.
Ragam pertunjukan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat yang hadir. Lebih dari itu, setiap kesenian membawa nilai sejarah, filosofi, identitas, serta pesan moral yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat pendukungnya.
Perjumpaan dua latar kebudayaan tersebut memperlihatkan bahwa keberagaman tidak harus menjadi pembatas. Sebaliknya, budaya dapat menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam suasana persaudaraan, saling menghargai, dan memperkuat persatuan.
Ketua Divisi Seni Budaya Mabes Kiwal Garuda Hitam MPW Sulsel, Purwanto Sukiyo Dg. Mangemba, S.Pt., mengatakan pertemuan budaya Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat nilai moral sekaligus persatuan masyarakat melalui kebudayaan.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya menampilkan berbagai kesenian tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari upaya merawat hubungan persaudaraan antarmasyarakat yang memiliki latar belakang budaya berbeda.
“Ke depan, acara ini akan memberikan nilai moral dan menyatukan budaya Sulsel dan Sultra. Kita menyatukan siri’ na pacce. Semoga Makassar menjadi tempat yang aman dan diridai,” ujarnya.
Ia menilai nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat dalam kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara memiliki relevansi penting dalam kehidupan bermasyarakat saat ini.
Melalui kegiatan kebudayaan, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal seni tradisional, tetapi juga memahami nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap adat, serta pentingnya menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, A. Hendra Hakamuddin, S.STP., M.Si., turut memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurutnya, kegiatan yang mempertemukan berbagai unsur kebudayaan dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk memperkenalkan kekayaan seni dan budaya kepada masyarakat luas.
Selain itu, kegiatan seperti ini dinilai semakin memperkuat posisi Makassar sebagai kota yang terbuka terhadap berbagai latar belakang budaya dan menjadi ruang pertemuan masyarakat dari berbagai daerah.
“Pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Karena itu, ruang-ruang kebudayaan seperti ini penting untuk terus dikembangkan agar generasi muda memiliki kesempatan mengenal dan mencintai warisan budaya daerahnya,” demikian pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.
Dihadiri Tokoh Adat dan Komunitas Budaya
Kegiatan “Attayang Sunset, Biseang ri Lau, Mangkasara’ Molulo” turut dihadiri sejumlah tokoh adat, pemerhati budaya, organisasi kemasyarakatan, serta komunitas seni budaya.
Di antaranya terdapat unsur Lembaga Adat Kerajaan Gowa, Majelis Adat Indonesia, Dewan Adat Tinggi Kerajaan Tallo, serta perwakilan masyarakat adat Tolaki, Buton, Moronene, Muna, dan Wowoni.
Kehadiran berbagai unsur tersebut semakin memperlihatkan kuatnya semangat kolaborasi dalam kegiatan yang mempertemukan kebudayaan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mempererat komunikasi dan silaturahmi antarkomunitas, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam pelestarian seni dan budaya di masa mendatang.
TRK Holding Berikan Dukungan
Dukungan terhadap kegiatan budaya tersebut juga datang dari TRK Holding (PT Tambang Rejeki Kolaka) yang memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan acara seni dan budaya “Mangkasara’ Molulo” di Kota Makassar.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari kepedulian terhadap kegiatan yang mengedepankan nilai kebersamaan, persaudaraan, serta pelestarian kebudayaan daerah.
CEO TRK Holding, H. Najmuddin, SE, saat dihubungi media melalui sambungan seluler menyampaikan bahwa dirinya belum sempat menghadiri langsung kegiatan tersebut lantaran sedang berada di luar kota.
Meski tidak hadir secara langsung, dukungan TRK Holding terhadap kegiatan tersebut tetap diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya masyarakat dalam menjaga eksistensi seni dan budaya lokal.
Kegiatan “Mangkasara’ Molulo” diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pertunjukan seremonial. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi agenda kebudayaan yang berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak komunitas serta generasi muda.
Di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus budaya global, pelestarian budaya lokal dinilai membutuhkan ruang aktualisasi yang mampu mendekatkan generasi muda dengan akar budayanya.
Melalui seni, adat, dan kebudayaan, masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa perbedaan tradisi dapat dirangkai menjadi kekuatan bersama.
Dari Pantai Losari, semangat siri’ na pacce, persaudaraan, dan kebersamaan kembali ditegaskan sebagai bagian penting dalam menjaga harmoni masyarakat serta merawat warisan budaya untuk generasi yang akan datang. (And)
- Arry Abdi Syalman Dianugerahi Kabar Makassar Award sebagai Tokoh Muda Sulsel - Agustus 30, 2026
- TRK Holding Dukung Panggung Budaya Sulsel-Sultra, “Mangkasara’ Molulo” Digelar di Pantai Losari - Agustus 29, 2026
- Golkar Sulsel Pasca-Musda: Antara Konsolidasi, Loyalitas dan Fragmentasi - Agustus 29, 2026






